Selasa, 16 April 2013

RINGKASAN GEOMORFOLOGI SUMATERA


Pulau Sumatera terletak di bagian barat gugusan Kepulauan Nusantara. Di sebelah utara berbatasan dengan Teluk Benggala, di timur dengan Selat Malaka, di sebelah selatan dengan Selat Sunda, dan di sebelah barat dengan Samudera Hindia. Di sebelah timur pulau, banyak dijumpai rawa yang dialiri oleh sungai-sungai besar, antara lain; Asahan (Sumatera Utara), Kampar, Siak dan Sungai Indragiri (Riau), Batang Hari (Sumatera Barat, Jambi), Ketahun (Bengkulu), Musi, Ogan, Lematang, Komering (Sumatera Selatan), dan Way Sekampung (Lampung).
Di bagian barat pulau, terbentang Pegunungan Barisan yang membujur dari utara hingga selatan. Hanya sedikit wilayah dari pulau ini yang cocok digunakan untuk pertanian padi. Sepanjang bukit barisan terdapat gunung-gunung berapi yang hingga saat ini masih aktif, seperti Merapi (Sumatera Barat), Bukit Kabat (Bengkulu), dan Kerinci (Jambi). Pulau Sumatera juga banyak memiliki danau besar, di antaranya Laut Tawar (Aceh), Danau Toba (Sumatera Utara), Danau Singkarak, Danau Maninjau, Danau Diatas, dan Danau Dibawah (Sumatera Barat), dan Danau Ranau (Lampung dan Sumatera Selatan).
Luas Pulau Sumatra ± 435.000 km² memanjang dari Barat – Laut ke tenggara dengan panjang 1.650 Km dari UleLhee sampai Tanjung Cina  lebar pulau di bagian Utara berkisar 100 – 200 Km di bagian Selatan mencapai 350 Km. Pulau Sumatra, berdasarkan luas merupakan pulau terbesar keenam di dunia.
Pegunungan Bukit Barisan dengan beberapa puncaknya yang melebihi 3.000 m di atas permukaan laut, merupakan barisan gunung berapi aktif, berjalan sepanjang sisi barat pulau dari ujung utara ke arah selatan; sehingga membuat dataran di sisi barat pulau relatif sempit dengan pantai yang terjal dan dalam ke arah Samudra Hindia dan dataran di sisi timur pulau yang luas dan landai dengan pantai yang landai dan dangkal ke arah Selat Malaka, Selat Bangka dan Laut China Selatan.
Gambaran secara umum keadaan fisiografi pulau itu agak sederhana. Fisiografinya dibentuk oleh rangkaian Pegunungan Barisan di sepanjang sisi baratnya, yang memisahkan pantai barat dan pantai timur. Lerengnya mengarah ke Samudera Indonesia dan pada umumnya curam. Hal ini mengakibatkan jalur pantai barat kebanyakan bergunung-gunung kecuali dua ambang dataran rendah di Sumatera Utara (Melaboh dan Singkel/Singkil) yang lebarnya ±20 km. Sisi timur dari pantai Sumatra ini terdiri dari lapisan tersier yang sangat luas serta berbukit-bukit dan berupa tanah rendah aluvial.
Bentuk permukaan Pulau Sumatera terdiri dari 3 bagian besar: (1). Bukit Barian, (2) Dataran rendah di bagian timur, (3) Jalur perbukitan (kaki timur bukit barisan).
A.    Pegunungan Bukit Barisan adalah jajaran pengunungan yang membentang dari ujung utara (Aceh) sampai ujung selatan (Lampung) pulau Sumatra, memiliki panjang lebih kurang 1650 km. Rangkaian pegunungan ini mempunyai puncak tertinggi Gunung Kerinci yang berlokasi di Jambi, berketinggian 3.805 meter di atas permukaan laut. Pegunungan Bukit Barisan terletak dekat pertemuan antara pelat tektonik Eurasia dan Australia.
Bukit Barisan Pegunungan, Pegunungan Bukit Barisan di sepanjang jalan raya Bukittinggi-Payakumbuh. Provinsi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung. Titik tertinggi Gunung Kerinci -elevasi 3.805 m (12.484 ft) Panjang 1.025 mi (1.650 km), utara–selatan.
B.     Jalur perbukitan (kaki gunung bukit barisan) adalah bekas cekungan yang tertimbun oleh endapan tebal, yang kemudian terangkat oleh tenaga endogen. Jalur ini banyak terdapat minyak bumi seperti: Sungai Komering, Sungai Bila dan antara Sungai Besitang-Krueng Meureudu.
C.    Dataran rendah di bagian timur, berbentuk dataran rendah yang landai dari arah bukit barisan menuju ke arah laut disebelah timur pulau sumatera. Daerah ini merupakan daerah dataran rendah yang banyak ditemukan rawa.
1.      Zona Barisan Sumatera Selatan
a.       Blok Bengkulu (The Bengkulu Block)
Pada Bagian Barat membentuk monoklinal dengan kemiringan 5 – 10° ke arah Laut India (Indian Ocean) dan tepi Timur Laut berupa bidang patahan. Batas Timur Laut Blok Bengkulu adalah Semangko Graben, Ujung Selatan Semangko Graben berupa Teluk Semangko di Selat Sunda. Sedangkan panjang Graben Semangko yang membentang dari Danau Ranau – Kota Agung di Teluk Semangko adalah 45 Km dan lebarnya 10 Km.
b.      Blok Bengkulu (The Bengkulu Block)
Terletak diantara Zone Semangko Sesaran Lampung (Lampung Fault). Bagian Selatan dari blok Semangko terbagi menjadi bentang alam menjadi seperti pegunungan Semangko, Depresi Ulehbeluh dan Walima, Horst Ratai dan Depresi Telukbetung. Sedangkan bagian Utara Blok Semangko (Central Block) berbentuk seperti Dome (diameter + 40 Km).
c.       Blok Sekampung (The Sekampung Blok)
Blok Sekampung merupakan sayap Timur Laut Bukit Barisan di Sumatra Selatan. Blok ini merupakan Pasang Blok Bengkulu. Kalau dilihat secara keseluruhan maka Zone Barisan bagian Selatan (di daerah Lampung) memperlihatkan sebagai geantiklin yang besar di mana Bengkulu Block sebagai sayap Barat Daya, lebar 30 Km kemudian Sekampung Blok sebagai sayap Timur Laut, lebar 35 Km dan puncak geantiklinnya adalah central block (Blok Semangko) dengan lebar 75 Km.
2.      Zone Barisan Tengah
Zona Barisan di daerah Padang memiliki lebar 140 Km dan bagian tersempit selebar 60 Km yaitu di Padang Sidempuan. Blok Bengkulu (the bengkulu Block) dapat ditelusuri sampai ke Padang sebagai pembentuk sayap Barat Daya bukit Barisan (Zone Barisan). Di Utara Padang, sayap Bukit Barisan Barat Daya di duduki oleh Danau Maninjau, Gunung Talakmau dan Gunung Sorikmarapi.
Zone Semangko membenteng dari Danau Kerinci sampai ke Danau Singkarak. Zone ini membentang memanjang searah dengan Sistem Barisan baik di Sumatra Tengah maupun Sumatra Selatan. Sayap Timur Laut yang terletak di Utara Danau Singkarak ke Tenggara.
3.      Zona Barisan Utara
a.       Tumor Batak (The Batak Culmination with the Lake Toba)
Tumor Batak, panjang 275 Km dan lebar 150 Km. puncak tertinggi Gunung Sibuatan 2.457 m di bagian Barat Laut Toba, Gunung Pangulubao 2151 terletak di bagian Timur Toba. Di bagian Tenggara adalah G. Surungan 2.173 m dan dibagian barat adalah Gunung Uludarat 2.157 m.
b.      Pegunungan di Aceh
Bagian utara Zone Barisan dimulai dengan pegunungan di Aceh yang searah dengan Lembah Krueng Aceh. Jalur ini terus menyambung kearah Tenggara ke pegunungan Pusat Gayo dengan beberapa puncak seperti Gunung Mas 1.762m, Gunung Bateekebeue 2.840 m, Gunung Geureudong 2.590 m, Gunung Tangga 2,500 m, Gunung Abongabong 2.985 m, G. Anu 2.750 m, Gunung Leiser 3.145 m, untuk G. Leuser letaknya agak ke Barat bila dibanding dengan posisi gunung lainnya. Dari uraian Zone Barisan maka terdapat satu keistimewaan di mana pada bagian puncak Zone Barisan terdapat suatu depresi yang memanjang dari Tenggara ke Barat Laut.

Minggu, 14 April 2013

GEOMORFOLOGI MALUKU


Daerah dengan julukan ” Bumi Seribu Pulau”  ini semakin mengkukuhkan dirinya sebagai salah satu daerah kepulauan di Indonesia yang memiliki 632 pulau besar dan kecil dengan luasnya sekitar712.479,69 km2 dengan panjang pantai 10.662,92 km2. Sebagian besar pulau-pulaunya memiliki ciri yang sama yang dapat diklasifikasikan sebagai pulau-pulau vulkanis dan karang. Topografi wilayahnya umumnya bergunung dan berbukit yang menjulang langsung dari permukaan laut. Jenis-jenis tanah yang dominan antara lain adalah tanah kompleks, latosol, renzina, dan mediteran.
Ditinjau dari penyebaran pulaunya, di Maluku terdapat 2 pulau besar yang dikelilingi oleh pulau-pulau sedang dan kecil, yaitu kelompok Pulau Halmahera termasuk Pulau Bacan dan pulau-pulau kecil lainnya seperti Tidore, Makian danTernate. dan kelompok Pulau Seram termasuk pulau-pulau Ambon, Haruku, Saparua, Lease, Kelang, Buano, Mampa dan sebagainya. Selain itu, terdapat pula kelompok-kelompok pulau yang sedang besarnya seperti Kepulauan Tanimbar, Kepulauan Aru, Kepulauan Kei, dan Kepulauan Sula di samping pulau-pulau tersendiri (soliter) seperti Pulau Buru, Pulau Obi, dan Pulau Wetar. Sisanya merupakan pulau-pulau kecil yang luas rata-ratanya kurang dari 500 km yang sebagian besar tidak berpenghuni.
Wilayah ini memiliki relief yang beraneka ragam dengan perkembangan yang aktif dan terus berlangsung secara intensif khususnya pembentukan gunungapi. Meskipun merupakan suatu kompleks gugusan kepulauan akan tetapi secara fisiografis maluku dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu Maluku Utara dan Maluku Selatan. Pembagian ini terkait dengan kondisi geologi dimana Maluku Utara sebagian dihubungkan dengan rangkaian pulau-pulau Asia Timur, dan sebagian dengan sistem Melanesia, sedang Maluku Selatan (Busur Banda) merupakan suatu bagian dari Sistem Pegunungan Sunda.
Geomorfologi Maluku Utara
Maluku Utara merupakan wilayah kepulauan yang terdiri atas pulau-pulau volkanik dan pulau-pulau non volkanik. Pulau vulkanik menempati bagian barat termasuk diantaranya adalah Pulau Ternate, Pulau Tidore, Pulau Moti, Pulau Mare, Pulau Makian, dan Pulau Sangihe. Sedangkan pulau non volkanik antara lain Pulau Bacan, Pulau Kasiruta, Pulau Talaud, dan Pulau Obi. Pulau Halmahera sendiri termasuk pulau vulkanik meskipun aktivitas vulkanik yang aktif tidak terdapat seluruh wilayahnya. Bagian utara Pulau Halmahera merupakan lokasi aktivitas vulkanik yang aktif. Pulau-pulau non vulkanik Maluku Utara saat ini berkembang dibawah pengaruh proses marin terutama deposisi marin. Zona gunungapi yang terletak di bagian utara Pulau Halmahera membentuk satu pola jaringan dengan gunungapi yang berada di pulau lain antara lain Pulau Ternate, Tidore, Mare, Moti dan Makian. Bentuklahan volkanik tererosi kuat terbentang dari timur ke barat pada zona vulkanik holosen yang aktif. Gunung Dukono adalah gunungapi aktif yang berada pada zona timur bagian utara. Gunung Dukono merupakan gunungapi holosen yang besar, posisinya bersambungan dengan patahan yang mengarah barat laut – tenggara.  Zona gunungapi yang terletak di bagian utara Pulau Halmahera membentuk satu pola jaringan dengan gunungapi yang berada di pulau lain antara lain Pulau Ternate, Tidore, Mare, Moti dan Makian. Bentuklahan volkanik tererosi kuat terbentang dari timur ke barat pada zona vulkanik holosen yang aktif. Gunung Dukono adalah gunungapi aktif yang berada pada zona timur bagian utara. Gunung Dukono merupakan gunungapi holosen yang besar, posisinya bersambungan dengan patahan yang mengarah barat laut – tenggara.  Blok barat laut berada di bagian tepi Pulau Halmahera, dibatasi dari graben tengah oleh escapment yang membentang dari pesisir timur hingga pesisir barat. Graben Tengah sendiri berbatasan langsung dengan zona gunungapi dan banyak mendapat pengaruh aktivitas vulkanik terutama dari Gunungapi Dukono dan Gunungapi Ibu. Di dalam Graben Tengah terdapat dataran rendah. Blok bagian timur memanjang arah utara selatan dan menempati sebagian besar sisi barat Pulau Halmahera. Dataran rendah kobe yang sempit memisahkan blok bagian timur halmahera di sebelah barat dengan dataran relief berombak di sebelah timurnya. Dataran relief berombak menempati bagian yang luas di timur Pulau Halmahera. Sepanjang pesisir utara dan selatan dataran ini terbentuk dari pesisir pengangkatan. Sedangkan bagian tengah merupakan pesisir pengenggelaman yang dipengaruhi oleh aktivitas marin dari Teluk Buli.

Maluku Selatan
Maluku Selatan secara geologi merupakan Busur Banda, yaitu sistem kepulauan yang membentuk busur mengelilingi tapalkuda basin Laut Banda yang membuka ke arah barat. Sistem Kepulauan Maluku Selatan dibedakan menjadi busur dalam yang vulkanis dan busur luar yang non vulkanis. Busur dalam terdiri dari pulau-pulau kecil (kemungkinan puncak gunungapi bawah laut/seamount) seperti Pulau Damar, Pulau Teun, Pulau Nila, Pulau Serua, Pulau Manuk dan Kepulauan Banda. Sedangkan busur luar terdiri dari beberapa pulau yang agak luas dan membentuk kompleks-kompleks kepulauan antara lain Kepulauan Leti, Kepulauan Babar, Kepulauan Tanimbar, Kepulauan Aru, Kepulauan Kai, Kepulauan Watu Bela, Pulau Seram, dan Pulau Buru.
Pulau Buru, Ambon, dan Seram
Pulau Buru, Pulau Ambon, dan Pulau Seram memiliki karakteristik geomorfologi yang sama yaitu didominasi oleh pegunungan struktural. Pulau Buru merupakan hasil pengangkatan berbentuk pegunungan dome yang dikelilingi oleh basin. Pulau Seram bagian baratnya merupakan pegunungan struktural yang tinggi (1.000-1.300 mdpal), bentuknya memanjang dan sempit, serta dibatasi oleh escarpment yang tertoreh kuat. Lembah-lembah diantaranya sangat sempit, banyak air terjun, tidak ada endapan alluvial.  Bagian timur: pegunungan berbatuan gamping.
Pulau-pulau karst Maluku Selatan
Terdapat di bagian tenggara tapalkuda maluku selatan: Kepulauan Aru dan Tanimbar. Umumnya memiliki pesisir bertebing/cliff, hanya sedikit pesisir yang datar.  Terdapat karang koral pada perairan di sekeliling pulau tetapi tidak dijumpai di daratan. Hal ini menunjukkan kenaikan pulau akibat penurunan muka air laut selama pleistosen.

Senin, 21 Januari 2013

MEDIA SOSIAL DALAM PENGGUNAANNYA SEBAGAI MEDIUM KAMPANYE POLITIK





EFEKTIVITAS MEDIA SOSIAL DALAM MENDUKUNG KAMPANYE POLITIK
498


Media social dalam kepentingannya untuk mendukung optimalisasi kampanye politik adalah salah satu pilihan kampanye yang tergolong kreatif dengan memanfaatkan kemajuan teknologi dan informasi yang ada. Membicarakan seberapa besar peran media online ataupun social media di Indonesia, paling mudah kita bisa melihat dari sisi jumlah (kuantitas). Setidaknya 1/5 penduduk di Indonesia telah "melek internet". Mayoritas dari pengguna internet tersebut menggunakan social media seperti Facebook ataupun Twitter. Selain kuantitas, kita juga perlu memperhatikan kualitas penggunanya. Namun, media social untuk dewasa ini kuantitasnya, masih belum sepadan dengan jumlah penduduk Indonesia yang ada. Selain itu, kampanye politik yang dilakukan melalui media social belum seefektif kampanye yang dilakukan melalui media elektronik maupun media cetak. Karena keberhasilan dari kampanye melalui suatu media, sebenarnya sangat bergantung pada aspek keterjangkauan dari media itu sendiri.
Solusi dari permasalahan sejauh mana efektifitas media social dalam mendukung kampanye politik adalah yang pertama mengatasi aspek keterjangkauan tersebut. Aspek keterjangkauaan ini dapat diatasi dengan meningkatkan perkembangan teknologi dan informasi dari segi internet, dan memberikan pemahaman serta sosialisasi kepada masyarakat secara menyeluruh terhadap internet beserta media social yang ada didalamnya seperti Facebook, Twitter, You Tube dan yang lainnya. Jika aspek keterjangkauaan itu telah teratasi maka kampanye politik melalui media social akan dapat lebih dioptimalisasikan kedepannya dalam menyukseskan kampanye politik itu sendiri.





HALAMAN ISI
Media social dalam kepentingannya untuk mendukung optimalisasi kampanye politik adalah salah satu pilihan kampanye yang tergolong kreatif dengan memanfaatkan kemajuan teknologi dan informasi yang ada. Membicarakan seberapa besar peran media online ataupun social media di Indonesia, paling mudah kita bisa melihat dari sisi jumlah (kuantitas). Setidaknya 1/5 penduduk di Indonesia telah "melek internet". Mayoritas dari pengguna internet tersebut menggunakan social media seperti Facebook ataupun Twitter. Selain kuantitas, kita juga perlu memperhatikan kualitas penggunanya. Pengguna sosial media umumnya adalah kaum terpelajar. Namun, media social untuk dewasa ini kuantitasnya, masih belum sepadan dengan jumlah penduduk Indonesia yang ada. Selain itu, kampanye politik yang dilakukan melalui media social belum seefektif kampanye yang dilakukan melalui media elektronik maupun media cetak. Karena keberhasilan dari kampanye melalui suatu media, sebenarnya sangat bergantung pada aspek keterjangkauan dari media itu sendiri.
Kita dapat melihat pada masa kampanye Obama tahun 2008 di Amerika. Salah satu faktor yang membuat popularitas obama naik secara cepat, dikarenakan ia merupakan kandidat yang terhubung dengan calon pemilih melalui social media.
Keunggulan social media dalam proses kampanye politik adalah bentuk komunikasi 2 arah (interaktif). Alangkah sangat baik apabila seorang pemimpin berperan aktif dalam mengelola akun social media nya secara pribadi, bukan dikelola oleh orang lain. Dengan begitu ia dapat mendengar suara rakyat hingga menerima kritikan. Memiliki akun social media merupakan langkah awal yang baik bagi seorang pemimpin, untuk  memberikan ruang bagi publik untuk menyapanya, berkomunikasi dengannya dan menjadi tempat berkeluh-kesah. 
Tidak hanya Twitter, pada saat pemilihan Gubernur DKI Jakarta yaitu pendukung Jokowi menjatuhkan citra kandidat incumbent dengan cara yang unik sekali cara-cara mereka, ada sebuah foto yang menyamakan wajah Jokowi dengan Obama dan menyamakan wajah berkumis Foke dengan Hitler. Selain itu juga lahirnya gerakan kompak baju kotak-kotak, hingga sekelompok anak muda yang menciptakan lagu dukungan untuk Jokowi dan mengunggah videonya di Youtube. Video itu kini telah ditonton lebih dari satu juta kali, bahkan sempat sering diputar di stasiun TV nasional.
Penempatan diri di social media oleh Jokowi sama dengan sosok sesungguhnya di lapangan dengan akunt Jokowi (facebook) dan jokowi_do2 (twitter), bahasa dan tutur kata yang sopan “Yang saya kerjakan hanyalah yang memang seharusnya saya kerjakan... Biasa saja, tak ada sesuatu yang istimewa” salah satu tweets yang ditampilkan Jokowi, kerja tim dan relawan dengan akunt yang mencapai ribuan, baik di twitter maupun facebook yang dikoordinir oleh Jasmev (Jokowi-Ahok Social Media Volunteers).
Dengan cara yang telah dilakukan oleh kandidat tersebut seperti kerja politik yang luar biasa di social media ini telah menempatkan Jokowi memenangi semua pertarungan via Sosial Media melawan Foke-Nara, seperti yang dilansir oleh indexpolitik.com bekerja sama dengan fajar.co.id selalu menempatkan Jokowi di atas Foke dengan komposisi 55,43 persen berbanding 44,57 persen untuk share of nitizen, yang merupakan gambaran seberapa banyak unik user memberikan mention terhadap brand tertentu dalam social media dibandingkan dengan total komunitasnya (brand dan competitor), dan 54,77 persen berbanding 45,23 persen untuk share of voise, share of voice ini sendiri adalah seberapa banyak mention suatu brand di social media dibandingkan dengan total komunitasnya (brand dan competitor) data ini dirilis pada tanggal 20 september 2012 pukul 13.10 Wita. Hal yang sama juga disampaikan oleh politicawave.com share of exposure 54,3 persen berbanding 45,7 persen dan share of citizen 54,1 persen berbanding 45,9 persen masing-masing untuk keunggulan Jokowi, dan salingsilang.com melalui SX Indeks juga merilis data pengamatan mereka, tanggal 12 Agustus - 10 September 2012 posisi Jokowi juga selalu mengungguli Foke, 161.674 buzz berbanding 127.698 buzz, dan 53.973 users berbanding 39.496 users. Politik dan sosial media telah di-integrasi-kan sempurna oleh Jokowi.
Jika kita melihat pada pertarungan pemilihan Gubernur diSulawasi Selatan saat ini, hasil survey yang dilakukan oleh Yahoo  pada tahun 2010 menunjukan adanya lonjakan dari 22 persen pada 2009, naik menjadi 48 persen pada 2010 di Indoneisia dan jumlah pengguna internet di Makassar sebesar 28 persen. Hal yang sama juga disampaikan oleh lembaga kajian Serum Institute. Data Februari 2012 pengguna internet di Makassar telah mencapai 37,8 ini setara dengan 660 ribu, dan untuk Sulsel secara keseluruan sebanyak 15,3%, jumlah yang memang belum signifikan dibanding dengan jumlah keseluruhan penduduk Sulsel.
Maka dari hal ini bisa saja media social adalah “kartu AS” untuk memenangkan pertarungan. Bisa jadi, yang memaksimalkan social media akan menjadi pemenang pilkada Sulsel 2013.
Disinilah perlu untuk kita lihat bahwa kembali lagi pada pernyataan saya yang pertama bahwa sejauh mana tingkat keberhasilan dari media social ini semuanya tergantung pada asas keterjangkauan dan persebaran. Karena jika kita harus melihat pada data yang terjadi pada pemilihan presiden Amerika Serikat tahun 2008 yang dimenangkan oleh Obama yang melakukan kampanye politiknya secara sukses melalui media social saya rasa itu sangat wajar karena mayoritas penduduk Amerika Serikat merupakan masyarakat yang memiliki perekonomian menengah keatas yang tentunya dengan tingkat pendidikan yang baik pula. Dengan demikian pemahaman masyarakat akan tinggi pula kepada media social. Berbeda dengan di Indonesia yang wilayahnya masih banyak yang belum tersentuh oleh internet akan menjadi kurang optimal metode media social ini, Walaupun memang banyak kemudahan yang diperoleh dari metode ini.
Dari Fokus Group Discussion yang dilangsungkan, ada berbagai pendapat tentang pembahasan ini baik yang pro akan efektivitas media social maupun yang kontra terhadap efektifitas media social.
Salah satu pandangan yang pro terhadap efiktivitas media social dikemukakan oleh peserta dengan No. Tes 132 yang mengatakan bahwa media social lebih efektif karena biaya yang kampanye akan berkurang, serta melihat dari segi pengguna media social yang sangat besar, bahkan persebarannya telah sampai kepada pedesaan. Selain itu, melalui media social kampanye yang nyata seperti turun kejalan hingga menyebabkan kemacetan akan dapat dikurangi.
Sementara salah satu komentar dari pihak yang kontra terhadap hal ini memaparkan bahwa untuk dewasa ini media social masih belum optimal, karena media social masih kurang efektif bila diterapkan pada wilayah-wilayah pelosok. Karena keterjangkauan dari media social ini pula belum sampai kepada masyarakat menengah kebawah, yang jelas masih jauh berbeda dari pada media elektronik seperti televise dan radio yang sejauh ini masih sangat efektif.
Solusi yang dapat ditawarkan dari permasalahan sejauh mana efektifitas media social dalam mendukung kampanye politik adalah yang pertama mengatasi aspek keterjangkauan tersebut. Aspek keterjangkauaan ini dapat diatasi dengan meningkatkan perkembangan teknologi dan informasi dari segi internet, dan memberikan pemahaman serta sosialisasi kepada masyarakat secara menyeluruh terhadap internet beserta media social yang ada didalamnya seperti Facebook, Twitter, You Tube dan yang lainnya. Jika aspek keterjangkauaan itu telah teratasi maka kampanye politik melalui media social akan dapat lebih dioptimalisasikan kedepannya dalam menyukseskan kampanye politik itu sendiri.
















REFERENSI

Digital Agency, tanggal 22 oktober 2012, diakses pada tanggal 14 januari 2013.
Fajar Online, terbitan selasa, 25 september 2012, oleh Anwar Abugaza, diakses pada tanggal 14 januari 2012