Blog ini dibuat dengan tujuan sebagai sarana penulis untuk menuangkan gagasan, ide dan pengetahuannya. selain itu diharapakan juga dengan gagaran dan ide-ide yang tertuang di blog ini dapat menjadi sumber-sumber informasi bagi teman-teman pembaca, khususnya mahasiswa. mahasiswa memang selalu lapar dan haus akan informasi maupun ide, maka dari itu penulis berharap dapat menghilangkan dahaga akan informasi tersebuttttt.
Sabtu, 21 Januari 2012
AGAMA HINDU DI INDIA
Perkembangan agama Hindu di India, pada hakekatnya dapat dibagi menjadi 4 fase, yakni Jaman Weda, Jaman Brahmana, Jaman Upanisad dan Jaman Budha. Dari peninggalan benda-benda purbakala di Mohenjodaro dan Harappa, menunjukkan bahwa orang-orang yang tinggal di India pada jamam dahulu telah mempunyai peradaban yang tinggi. Salah satu peninggalan yang menarik, ialah sebuah patung yang menunjukkan perwujudan Siwa. Peninggalan tersebut erat hubungannya dengan ajaran Weda, karena pada jaman ini telah dikenal adanya penyembahan terhadap Dewa-dewa.
Jaman Weda dimulai pada waktu bangsa Arya berada di Punjab di Lembah Sungai Sindhu, sekitar 2500 s.d 1500 tahun sebelum Masehi, setelah mendesak bangsa Dravida kesebelah Selatan sampai ke dataran tinggi Dekkan. bangsa Arya telah memiliki peradaban tinggi, mereka menyembah Dewa-dewa seperti Agni, Varuna, Vayu, Indra, Siwa dan sebagainya. Walaupun Dewa-dewa itu banyak, namun semuanya adalah manifestasi dan perwujudan Tuhan Yang Maha Tunggal. Tuhan yang Tunggal dan Maha Kuasa dipandang sebagai pengatur tertib alam semesta, yang disebut "Rta". Pada jaman ini, masyarakat dibagi atas kaum Brahmana, Ksatriya, Vaisya dan Sudra.
Pada Jaman Brahmana, kekuasaan kaum Brahmana amat besar pada kehidupan keagamaan, kaum brahmanalah yang mengantarkan persembahan orang kepada para Dewa pada waktu itu. Jaman Brahmana ini ditandai pula mulai tersusunnya "Tata Cara Upacara" beragama yang teratur. Kitab Brahmana, adalah kitab yang menguraikan tentang saji dan upacaranya. Penyusunan tentang Tata Cara Upacara agama berdasarkan wahyu-wahyu Tuhan yang termuat di dalam ayat-ayat Kitab Suci Weda.
Sedangkan pada Jaman Upanisad, yang dipentingkan tidak hanya terbatas pada Upacara dan Saji saja, akan tetapi lebih meningkat pada pengetahuan bathin yang lebih tinggi, yang dapat membuka tabir rahasia alam gaib. Jaman Upanisad ini adalah jaman pengembangan dan penyusunan falsafah agama, yaitu jaman orang berfilsafat atas dasar Weda. Pada jaman ini muncullah ajaran filsafat yang tinggi-tinggi, yang kemudian dikembangkan pula pada ajaran Darsana, Itihasa dan Purana. Sejak jaman Purana, pemujaan Tuhan sebagai Tri Murti menjadi umum.
Selanjutnya, pada Jaman Budha ini, dimulai ketika putra Raja Sudhodana yang bernama "Sidharta", menafsirkan Weda dari sudut logika dan mengembangkan sistem yoga dan semadhi, sebagai jalan untuk menghubungkan diri dengan Tuhan.
Agama Hindu, dari India Selatan menyebar sampai keluar India melalui beberapa cara. Dari sekian arah penyebaran ajaran agama Hindu sampai juga di Nusantara.
MASUKNYA AGAMA HINDU DI INDONESIA
Berdasarkan beberapa pendapat, diperkirakan bahwa Agama Hindu pertamakalinya berkembang di Lembah Sungai Shindu di India. Dilembah sungai inilah para Rsi menerima wahyu dari Hyang Widhi dan diabadikan dalam bentuk Kitab Suci Weda. Dari lembah sungai sindhu, ajaran Agama Hindu menyebar ke seluruh pelosok dunia, yaitu ke India Belakang, Asia Tengah, Tiongkok, Jepang dan akhirnya sampai ke Indonesia. Ada beberapa teori dan pendapat tentang masuknya Agama Hindu ke Indonesia.
Krom (ahli - Belanda), dengan teori Waisya.
Dalam bukunya yang berjudul "Hindu Javanesche Geschiedenis", menyebutkan bahwa masuknya pengaruh Hindu ke Indonesia adalah melalui penyusupan dengan jalan damai yang dilakukan oleh golongan pedagang (Waisya) India.
Mookerjee (ahli - India tahun 1912).
Menyatakan bahwa masuknya pengaruh Hindu dari India ke Indonesia dibawa oleh para pedagang India dengan armada yang besar. Setelah sampai di Pulau Jawa (Indonesia) mereka mendirikan koloni dan membangun kota-kota sebagai tempat untuk memajukan usahanya. Dari tempat inilah mereka sering mengadakan hubungan dengan India. Kontak yang berlangsung sangat lama ini, maka terjadi penyebaran agama Hindu di Indonesia.
Moens dan Bosch (ahli - Belanda)
Menyatakan bahwa peranan kaum Ksatrya sangat besar pengaruhnya terhadap penyebaran agama Hindu dari India ke Indonesia. Demikian pula pengaruh kebudayaan Hindu yang dibawa oleh para para rohaniwan Hindu India ke Indonesia.
Data Peninggalan Sejarah di Indonesia.
Data peninggalan sejarah disebutkan Rsi Agastya menyebarkan agama Hindu dari India ke Indonesia. Data ini ditemukan pada beberapa prasasti di Jawa dan lontar-lontar di Bali, yang menyatakan bahwa Sri Agastya menyebarkan agama Hindu dari India ke Indonesia, melalui sungai Gangga, Yamuna, India Selatan dan India Belakang. Oleh karena begitu besar jasa Rsi Agastya dalam penyebaran agama Hindu, maka namanya disucikan dalam prasasti-prasasti seperti:
Prasasti Dinoyo (Jawa Timur):
Prasasti ini bertahun Caka 628, dimana seorang raja yang bernama Gajahmada membuat pura suci untuk Rsi Agastya, dengan maksud memohon kekuatan suci dari Beliau.
Prasasti Porong (Jawa Tengah)
Prasasti yang bertahun Caka 785, juga menyebutkan keagungan dan kemuliaan Rsi Agastya. Mengingat kemuliaan Rsi Agastya, maka banyak istilah yang diberikan kepada beliau, diantaranya adalah: Agastya Yatra, artinya perjalanan suci Rsi Agastya yang tidak mengenal kembali dalam pengabdiannya untuk Dharma. Pita Segara, artinya bapak dari lautan, karena mengarungi lautan-lautan luas demi untuk Dharma.
AGAMA HINDU DI INDONESIA
Masuknya agama Hindu ke Indonesia terjadi pada awal tahun Masehi, ini dapat diketahui dengan adanya bukti tertulis atau benda-benda purbakala pada abad ke 4 Masehi denngan diketemukannya tujuh buah Yupa peningalan kerajaan Kutai di Kalimantan Timur. Dari tujuh buah Yupa itu didapatkan keterangan mengenai kehidupan keagamaan pada waktu itu yang menyatakan bahwa: "Yupa itu didirikan untuk memperingati dan melaksanakan yadnya oleh Mulawarman". Keterangan yang lain menyebutkan bahwa raja Mulawarman melakukan yadnya pada suatu tempat suci untuk memuja dewa Siwa. Tempat itu disebut dengan "Vaprakeswara".
Masuknya agama Hindu ke Indonesia, menimbulkan pembaharuan yang besar, misalnya berakhirnya jaman prasejarah Indonesia, perubahan dari religi kuno ke dalam kehidupan beragama yang memuja Tuhan Yang Maha Esa dengan kitab Suci Veda dan juga munculnya kerajaan yang mengatur kehidupan suatu wilayah. Disamping di Kutai (Kalimantan Timur), agama Hindu juga berkembang di Jawa Barat mulai abad ke-5 dengan diketemukannya tujuh buah prasasti, yakni prasasti Ciaruteun, Kebonkopi, Jambu, Pasir Awi, Muara Cianten, Tugu dan Lebak. Semua prasasti tersebut berbahasa Sansekerta dan memakai huruf Pallawa.
Dari prassti-prassti itu didapatkan keterangan yang menyebutkan bahwa "Raja Purnawarman adalah Raja Tarumanegara beragama Hindu, Beliau adalah raja yang gagah berani dan lukisan tapak kakinya disamakan dengan tapak kaki Dewa Wisnu"
Bukti lain yang ditemukan di Jawa Barat adalah adanya perunggu di Cebuya yang menggunakan atribut Dewa Siwa dan diperkirakan dibuat pada masa Raja Tarumanegara. Berdasarkan data tersebut, maka jelas bahwa Raja Purnawarman adalah penganut agama Hindu dengan memuja Tri Murti sebagai manifestasi dari Tuhan Yang Maha Esa. Selanjutnya, agama Hindu berkembang pula di Jawa Tengah, yang dibuktikan adanya prasasti Tukmas di lereng gunung Merbabu. Prasasti ini berbahasa sansekerta memakai huruf Pallawa dan bertipe lebih muda dari prasasti Purnawarman. Prasasti ini yang menggunakan atribut Dewa Tri Murti, yaitu Trisula, Kendi, Cakra, Kapak dan Bunga Teratai Mekar, diperkirakan berasal dari tahun 650 Masehi.
Pernyataan lain juga disebutkan dalam prasasti Canggal, yang berbahasa sansekerta dan memakai huduf Pallawa. Prasasti Canggal dikeluarkan oleh Raja Sanjaya pada tahun 654 Caka (576 Masehi), dengan Candra Sengkala berbunyi: "Sruti indriya rasa", Isinya memuat tentang pemujaan terhadap Dewa Siwa, Dewa Wisnu dan Dewa Brahma sebagai Tri Murti.
Adanya kelompok Candi Arjuna dan Candi Srikandi di dataran tinggi Dieng dekat Wonosobo dari abad ke-8 Masehi dan Candi Prambanan yang dihiasi dengan Arca Tri Murti yang didirikan pada tahun 856 Masehi, merupakan bukti pula adanya perkembangan Agama Hindu di Jawa Tengah. Disamping itu, agama Hindu berkembang juga di Jawa Timur, yang dibuktikan dengan ditemukannya prasasti Dinaya (Dinoyo) dekat Kota Malang berbahasa sansekerta dan memakai huruf Jawa Kuno. Isinya memuat tentang pelaksanaan upacara besar yang diadakan oleh Raja Dea Simha pada tahun 760 Masehi dan dilaksanakan oleh para ahli Veda, para Brahmana besar, para pendeta dan penduduk negeri. Dea Simha adalah salah satu raja dari kerajaan Kanjuruan. Candi Budut adalah bangunan suci yang terdapat di daerah Malang sebagai peninggalan tertua kerajaan Hindu di Jawa Timur.
Kemudian pada tahun 929-947 munculah Mpu Sendok dari dinasti Isana Wamsa dan bergelar Sri Isanottunggadewa, yang artinya raja yang sangat dimuliakan dan sebagai pemuja Dewa Siwa. Kemudian sebagai pengganti Mpu Sindok adalah Dharma Wangsa. Selanjutnya munculah Airlangga (yang memerintah kerajaan Sumedang tahun 1019-1042) yang juga adalah penganut Hindu yang setia.
Setelah dinasti Isana Wamsa, di Jawa Timur munculah kerajaan Kediri (tahun 1042-1222), sebagai pengemban agama Hindu. Pada masa kerajaan ini banyak muncul karya sastra Hindu, misalnya Kitab Smaradahana, Kitab Bharatayudha, Kitab Lubdhaka, Wrtasancaya dan kitab Kresnayana. Kemudian muncul kerajaan Singosari (tahun 1222-1292). Pada jaman kerajaan Singosari ini didirikanlah Candi Kidal, candi Jago dan candi Singosari sebagai sebagai peninggalan kehinduan pada jaman kerajaan Singosari.
Pada akhir abad ke-13 berakhirlah masa Singosari dan muncul kerajaan Majapahit, sebagai kerajaan besar meliputi seluruh Nusantara. Keemasan masa Majapahit merupakan masa gemilang kehidupan dan perkembangan Agama Hindu. Hal ini dapat dibuktikan dengan berdirinya candi Penataran, yaitu bangunan Suci Hindu terbesar di Jawa Timur disamping juga munculnya buku Negarakertagama.
Selanjutnya agama Hindu berkembang pula di Bali. Kedatangan agama Hindu di Bali diperkirakan pada abad ke-8. Hal ini disamping dapat dibuktikan dengan adanya prasasti-prasasti, juga adanya Arca Siwa dan Pura Putra Bhatara Desa Bedahulu, Gianyar. Arca ini bertipe sama dengan Arca Siwa di Dieng Jawa Timur, yang berasal dari abad ke-8.
Menurut uraian lontar-lontar di Bali, bahwa Mpu Kuturan sebagai pembaharu agama Hindu di Bali. Mpu Kuturan datang ke Bali pada abad ke-2, yakni pada masa pemerintahan Udayana. Pengaruh Mpu Kuturan di Bali cukup besar. Adanya sekte-sekte yang hidup pada jaman sebelumnya dapat disatukan dengan pemujaan melalui Khayangan Tiga. Khayangan Jagad, sad Khayangan dan Sanggah Kemulan sebagaimana termuat dalam Usama Dewa. Mulai abad inilah dimasyarakatkan adanya pemujaan Tri Murti di Pura Khayangan Tiga. Dan sebagai penghormatan atas jasa beliau dibuatlah pelinggih Menjangan Salwang. Beliau Moksa di Pura Silayukti.
Perkembangan agama Hindu selanjutnya, sejak ekspedisi Gajahmada ke Bali (tahun 1343) sampai akhir abad ke-19 masih terjadi pembaharuan dalam teknis pengamalan ajaran agama. Dan pada masa Dalem Waturenggong, kehidupan agama Hindu mencapai jaman keemasan dengan datangnya Danghyang Nirartha (Dwijendra) ke Bali pada abad ke-16. Jasa beliau sangat besar dibidang sastra, agama, arsitektur. Demikian pula dibidang bangunan tempat suci, seperti Pura Rambut Siwi, Peti Tenget dan Dalem Gandamayu (Klungkung).
Perkembangan selanjutnya, setelah runtuhnya kerajaan-kerajaan di Bali pembinaan kehidupan keagamaan sempat mengalami kemunduran. Namun mulai tahun 1921 usaha pembinaan muncul dengan adanya Suita Gama Tirtha di Singaraja. Sara Poestaka tahun 1923 di Ubud Gianyar, Surya kanta tahun1925 di SIngaraja, Perhimpunan Tjatur Wangsa Durga Gama Hindu Bali tahun 1926 di Klungkung, Paruman Para Penandita tahun 1949 di Singaraja, Majelis Hinduisme tahun 1950 di Klungkung, Wiwadha Sastra Sabha tahun 1950 di Denpasar dan pada tanggal 23 Pebruari 1959 terbentuklah Majelis Agama Hindu. Kemudian pada tanggal 17-23 Nopember tahun 1961 umat Hindu berhasil menyelenggarakan Dharma Asrama para Sulinggih di Campuan Ubud yang menghasilkan piagam Campuan yang merupakan titik awal dan landasan pembinaan umat Hindu. Dan pada tahun 1964 (7 s.d 10 Oktober 1964), diadakan Mahasabha Hindu Bali dengan menetapkan Majelis keagamaan bernama Parisada Hindu Bali dengan menetapkan Majelis keagamaan bernama Parisada Hindu Bali, yang selanjutnya menjadi Parisada Hindu Dharma Indonesia.
Minggu, 01 Januari 2012
RIWAYAT HIDUP
Putu darsana menyelesaikan
pendidikan tingkat Sekolah Dasar (SD) pada tahun 2005 tepatnya di SDN 201
RAMAYANA, dan menyelasaikan pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) pada
tahun 2008 di SMP NEGERI 1 MAPPEDECENG, serta menyelesaikan pendidikan Sekolah
Menengah Atas (SMA) pada tahun 2011 di SMA NEGERI 1 MAPPEDECENG. Saat ini PUTU
DARSANA sementara melanjutkan studinya di Universitas Negeri Makassar (UNM),
jurusan Geografi, program studi Pendidikan Geografi.
Prestasi-prestasi akademik yang
pernah diraih oleh penulis antara lain sebagai peraih peringkat I di SMP Negeri
1 Mappedeceng dari semester I hingga semester VI, sementara semasa SMA, penulis
selalu meraih peringkat dan selalu berada di antara lima besar. Selain itu juga
penulis meraih predikat sebagai salah satu lulusan terbaik di SMA NEGERI 1
MAPPEDECENG. Pada tingkat SMA penulis memilih jurusan IPA. Adapun prestasi
nonakademik yang pernah diraih adalah sebagai juara II pidato bahasa inggris
dalam PORSENI tingkat kabupaten Luwu Utara tahun 2007, juara I Dharma Wacana
tingkat Kabupaten Luwu Utara tahun 2010 dan juara II Dharma Wacana tingkat
Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2011.
Organisasi yang pernah diikuti
oleh penulis adalah OSIS menjabat sebagai Ketua OSIS, dan saat ini terdaftar sebagai
anggota PD KMHDI SUL-SEL.
Makassar, Desember 2011
PUTU DARSANA
NIM.
1115040026
Minggu, 25 Desember 2011
TUGAS PENGETAHUAN
LINGKUNGAN
NAMA :
PUTU DARSANA
NIM :
1115040026
PRODI :
PENDIDIKAN GEOGRAFI
MATA KULIAH :
PENGETAHUAN LINGKUNGAN
BANJIR ( LUWU UTARA)
Banjir merupakan
peristiwa terbenamnya daratan (yang biasanya kering) karena volume air yang
meningkat. Banjir dapat terjadi karena peluapan air yang berlebihan di suatu
tempat akibat hujan besar, peluapan air sungai, atau pecahnya bendungan sungai.
Apa penyebab banjir ?
·
Curah hujan dalam jangka
waktu panjang.
·
Erosi tanah menyisakan batuan,
hingga tidak ada resapan air.
·
Buruknya penanganan
sampah, hingga sumber saluran-saluran air tersumbat.
·
Pembangunan tempat
permukiman dimana tanah kosong diubah menjadi
jalan / tempat parkir, hingga daya serap
air hujan tidak ada.
·
Bendungan dan
saluran air rusak.
·
Keadaan tanah tertutup
semen, paving atau aspal, hingga tidak menyerap air.
·
Pembabatan hutan secara
liar (Illegal logging).
·
Di daerah
bebatuan daya serap air sangat kurang,
mengakibatkan banjir
kiriman atau banjir bandang.
Di
banyak daerah yang gersang di dunia, tanahnya mempunyai daya serapan air yang
buruk, atau jumlah curah hujan melebihi kemampuan tanah untuk menyerap air. Ketika hujan turun, yang kadang terjadi adalah banjir secara tiba-tiba yang diakibatkan terisinya saluran
air kering dengan air. Banjir semacam ini disebut banjir bandang.
Badai
juga dapat menyebabkan banjir melalui beberapa cara, di antaranya melalui ombak
besar yang tingginya bisa mencapai 8 meter. Selain itu badai juga adanya
presipitasi yang dikaitkan dengan peristiwa badai. Mata badai mempunyai tekanan
yang sangat rendah, jadi ketinggian laut dapat naik beberapa meter pada mata
guntur.
Hujan deras yang berlangsung 7-8
Oktober lalu menyebabkan banjir di Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan.
Banjir akibat luapan Sungai Lamasi, Rongkong, dan Makawa itu merendam ratusan rumah
di enam kecamatan, yakni Mappedeceng, Baebunta, Lamasi, Lamasi Timur,
Walenrang, dan Walenrang Utara.
Sejumlah daerah di Luwu Utara
menjadi langganan banjir setiap musim hujan. Namun, banjir kali ini merupakan
yang terparah mengingat aktivitas warga di lima desa lumpuh akibat terisolasi.
Banjir juga menerjang ribuan hektar perkebunan kakao, sawah, dan tambak udang.

Tingginya curah
hujan, pendangkalan aliran sungai, serta masih maraknya pembalakan liar menjadi
faktor utama penyebab banjir. Jika hujan mengguyur daerah hulu Sungai Rongkong,
maka sudah pasti Desa Beringin Jaya dan sekitarnya akan terendam banjir. Bahkan
tidak sedikit warga yang membongkar rumah kayu mereka untuk mengantisipasi
terjangan banjir. "Dari pada rumahnya terbawah arus, mereka (warga)
memilih untuk membongkar dan memindahkannya ke tempat yang lebih aman,"
kata Bastriar, salah seorang warga.
Cara
Menanggulangi Banjir
1.
Memfungsikan sungai dan selokan
sebagaimana mestinya. Karena sungai dan selokan merupakan tempat aliran air, jangan
sampai fungsinya berubah menjadi tempat sampah.
2.
Larangan membuat rumah di dekat
sungai. Biasanya, yang mendirikan rumah di dekat sungai adalah para pendatang
yang yang datang ke kota besar hanya dengan modal nekat. Akibatnya, keberadaan
mereka bukannya membantu peningkatan perekonomian, akan tetapi malah
sebaliknya, merusak lingkungan. Itu sebabnya pemerintah harus tegas, melarang
membuat rumah di dekat sungai dan melarang orang-orang tanpa tujuan tidak jelas
datang ke kota dalam jangka waktu lama atau untuk menetap.
3.
Menanam pohon dan pohon-pohon yang
tersisa tidak ditebangi lagi. Karena pohon adalah salah satu penopang kehidupan
di suatu tempat. Pohon selain sebagai penetralisasi pencemaran udara di siang
hari, sebagai pengikat air di saat hujan melalui akar-akarnya.
NAMA : PUTU
DARSANA
KAMPUS/JURUSAN : UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR (UNM) /
PENDIDIKAN GEOGRAFI
KLASIFIKASI
VEDA

Keterangan :
1. Veda
adalah kitab suci agama Hindu,yang dibagi menjadi veda sruti dan veda smrti.
2. Veda
sruti adalah kelompok veda yang ditulis oleh para Maha Rsi melalui pendengaran
langsung dari wahyu Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
a. Mantra
adalah bagian yang terdiri dari empat himpunan yang disebut catur veda samhita.
1) Rg
Weda samhita merupakan kumpulan mantra-mantra yang memuat ajaran-ajaran umum
dalam bentuk pujian.
2) Sama
Weda samhita merupakan kumpilan mantra-mantra memuat ajaran umum mengenai
lagu-lagu pujian atau saman.
3) Yayur
Wea Samhita merupakan kumpulan mantra-mantra yang merupakan ajaran umum
mengenai pokok-pokok yadnya.
4) Atharwa
Weda Samhita merupakan kumpulan mantra-mantra yang memuat ajaran yang bersifat
magis.
b. Brahmana
adalah bagian yang berisi kumpulan doa-doa yang dipergunakan untuk keperluan
upacar yadnya.
1) Aitareya
Brahmana yang sebenarnya berasal dari Rg veda yang terdiri dari 40 Bab
2) Kausitaki
brahmana berasal dari kitab Rg veda yang terdiri dari 30 bab
3) Tandnya
brahmana yang berasal dari kitab sama veda yang berisi legenda atau
cerita-cerita kuno yang dikaitkan dengan upacara yadnya.sadwimsa brahmana juga
berasal dari kitab sama veda
4) Taitiriya
brahmana merupakan kitab yang bersumber dari yajur veda
5) Satapatha
brahmana merupakan penguraiaan dari yajur veda
6) Gopatha
brahmana merupakan penguraian dari atharwa veda
c. Upanisad
adalah himpunan mantra-mantra yang membahas berbagai aspek teori mengenai
ketuhanan yang isinya membahas hal-hal yang bersifat rahasia.
3. Veda
smerti adalah kelompok veda yang ditulis oleh para Maha Rsi berdasarkan ingatan
dari wahyu Tuhan Yang Maha Esa.
a) Kelompok
Vedangga merupakan suatu kelompok veda yang memiliki peranan sebagai batang
tubuh dari veda
1) Siksa
merupakan kitab suci yang isinya menguraikan tentang petunjuk-petunjuk tata
cara mengucapkan mantram dengan tinggi rendahnya tekanan suara.
2) Wyakarana
menguraikan tentang tata cara untuk dapat menghayati veda dengan besar.
3) Chanda
adalah cabang veda yang secara khusus membicarakan tentang aspek ikatan bahasa
dalam veda yang disebut lagu.
4) Nirukta
adalah bagian veda yang berisikan tentang penafsiran otentik yang berhubungan
dengna kata-kata yang terdapat dalam veda.
5) Jyotisa
isinya yang utama adalah menguraikan tentang peredaran tata surya, bulan dan
benda angkara lainya yang dipandang dan dianggap memiliki pengaruh dalam
pelaksanaan yadnya.
6) Kalpa,
isinya merupakan hal-hal yang berhubungan dengan kitab brahmana dan kitab-kitab
mantra.
b) Kelompok
Upaveda berarti secara bahasa adalah dekat dengan veda atau pengetahuan suci
(veda tambahan).
1) Itihasa
adalah sebuah epos yang menceritakan sejarah perkembangan raja-raja dan
kerajaan Hindu dimasa lampau.itihasa adalah karya yang bersifat spiritual,
dimana ceritanya penuh filsafat, romana, kewiraan dan mitologi.
i.
Kitab Ramayana (terdiri dari 7 kanda)
ii.
Mahabharata (terdiri dari 18 parwa)
2) Purana,
berisikan berbagai macam cerita dan keterangan kebiasaan-kebiasaan yang
dilakukan pada masa dahulu kala.
3) Artha
Sastra berisikan tentang pokok-pokok pemikiran bidang ilmu politik.
i.
Niti sastra
ii.
Usana
4) Ayur
Veda, berisi penguraian tentanga bidang ilmu kedokteran atau kesehatan baik
rohani maupun jasmani.
i.
Caraka samhita
ii.
Susruta samhita
iii.
Kasyapa samhita
iv.
Astanggahrdaya
v.
Yogasara
vi.
Kama sutra
5) Gandharwa
veda, isinya menguraikan tentang berbagai aspek cabang ilmu seni
i.
Natya sastra
ii.
Netya wedagama
iii.
Dewa dasa sahasri
iv.
Rasarnawa
v.
rasaratnasamucaya
6) Kama
sastra isinya merupakan penguraian tentang segala sesuatu yang berhubungan
dengan asmara, seni atau rasa indah.
7) Agama
itu baru ada setelah agama Hindu ada dan berkembang didunia.
Langganan:
Postingan (Atom)
